Selasa, 25 September 2012

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBN MISKAWAIH


Oleh: Afiful ikhwan*

 

A.       Identitas dan Riwayat Hidup Ibnu Maskawaih

Ibnu Miskawaih mempunyai nama lengkap Abu Ali Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu yacub Ibnu Miskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyhur adalah Maskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama tersebut diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majusi kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Dari gelar ini tidak salah jika orang mengatakan bahwa Maskawaih tergolong penganut aliran Syi’ah. Gelar ini juga sering disebutkan, yaitu al-Khazim yang berarti bendaharawan, disebabkan kekuasaan Adhud al Daulah dari Bani Buwaihi, ia memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawannya. Ia dilahirkan di kota Rayy Iran pada tahun 330H/9 M dan wafat di Asfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/ 16 Feruari 1030 M dalam usia 91 tahun.[1]

Maskawaih dilahirkan di Ray (Teheran sekarang). Mengenai tahun kelahirannya, para penulis menyebutkan berbeda-beda, MM Syarif menyebutkan tahun 320 H/932 M. Morgoliouth menyebutkan tahun 330 H. Abdul Aziz Izzat menyebutkan tahun 325 H. Sedangkan wafatnya, para tokoh sepakat pada 9 shafar 421 H/16 Februari 1030 M.

Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Maskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaihi yang beraliran Syi’ah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaihi yang mulai berpengaruh sejak Khalifah al Mustakfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai perdana menteri dengan gelar Mu’izz al Daulah pada 945 M. Dan pada  tahun 945 M itu juga Ahmad bin Buwaih berhasil menaklukkan Baghdad di saat bani Abbas berada di bawah pengaruh kekuasaan Turki. Dengan demikian, pengaruh Turki terhadap bani Abbas digantikan oleh Bani Buwaih yang dengan leluasa melakukan penurunan dan pengangkatan khalifah-khalifah bani Abbas.

Puncak prestasi bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud al Daulah (tahun 367 H – 372 H). Perhatiannya amat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, dan pada masa inilah Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud al Daulah. Juga pada masa ini Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan, dan pujangga. Tapi, disamping itu ada hal yang tidak menyenangkan hati Maskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Maskawaih lalu tertarik untuk menitikberatkan perhatiannya pada bidang etika Islam.[2]

Latar belakang pendidikannya tidak diketahui secara rinci, sebagian antara lain terkenal memepelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi, mempelajari filsafat dari Ibn al-Akhmar dan mempelajari kimia dari Abi Thayyib.[3]

 

B.       Pemikiran Ibn Miskawaih Secara Umum

Syed Abdul Wadud di dalam buku Alam dan Quran telah menyebut dia sebagai Miskawiah. Ia adalah ilmuwan suka meneliti dalam pengetahuan ilmiah dan akademis untuk berbagai. Ia adalah ahli dan mampu di bidang Biologi; ia merupakan ilmuwan pertama yang menemukan kehidupan tumbuhan secara umum, membahas tentang evolusi. Ia adalah sarjana sosiologi, yang ahli tentang kebudayaan dan peradaban dengan spesifikasi pada disiplin Psikologi, dalam bidang psikologi ia termasuk ahli dibidangnya. Ia adalah peneliti dan pemikir etika, kerohanian dan penulis besar buku akhlak.

Maskawaih adalah salah seorang tokoh filsafat dalam Islam yang memusatkan perhatiannya pada etika Islam. Meskipun sebenarnya ia pun seorang sejarawan, tabib, ilmuwan dan sastrawan. Pengetahuannya tentang kebudayaan Romawi, Persia, dan India, disamping filsafat Yunani, sangat luas.

 

Karya-karya Ibnu Miskawaihi antara lain :
• Tajarib Al-Umam
• Ta'qub Al-Himam
• Thaharat Al-Nafs
• Adab Al-Arab wa Al-Firs
• Al-Fawz Al-Ashgarfi Ushul Al-Diniyat
• Al-Fawz Al-Akbar (dalam bidang etika)
• Kitab Al-Siasat
• Mukhtar Al-Asy' ar
• Nadim Al-Farid
• Nu Zhat Namah ' Alaiy
• Jawidan Khird
• Tartib Al-Sa;adat (dalam bidang etika)
• Al-Adawiyah Al-Mufridah (tentang obat-obatan)
• Al-Asyribah

C.       Pemikiran Ibn Miskawaih tentang Pendidikan Islam

Psikologi Miskawaihi bertumpu pada ajaran spiritualistik tradisional Plato dan Aristoteles dengan kecenderungan Platonis. Pada tulisan awalnya Ibnu Miskawaihi menyatakan keterkaitan antara pembentukan watak dengan pendidikan dan ilmu jiwa. Katanya "Tujuan kami menyusun kitab ini (Tahzi-bul Akhlak) adalah untuk menghasiikan bagi diri kita suatu watak pribadi yang melahirkan perilaku yang baik seluruhnya dengan gampang, tak dibuat-buat lagi tanpa kesulitan (maksudnya perilaku yang baik lahir dari watak itu secara otomatis). Hal demikian diperoleh melalui proses pendidikan dan jalan untuk demikian lebih dahulu dipelajari ilmu jiwa. Apa dan bagaimana jiwa itu? Untuk apa dia dciptakan, kesempurnaannya, tujuannya, kemampuannya "sifatnya" yang bila kita pergunakan/ bina sebagaimana mestinya, niscaya jiwa itu akan-membawa kita, kepada martabat yang mulia. Dan perlu pula kita pelajari faktor-faktor yang menghambat jiwa itu dalam rnenuju martabat yang mulia, apa saja yang mensucikannya dan apa yang mengotorinya,[4] maka karena itu Tuhan berfirman dalam Surah as-Syams ayat 10 : "Beruntunglah orang yang membersihkannya dan rugilah orang yang meno-dainya"

"Jiwa itu menurut Ibnu Miskawaihi adalah zat pada diri kita yang bukan berupa jisim, bukan pula bagian dari jisim, bukan pula aradh (sifat peserta pada substansi) wujudnya tidak memerlukan potensi tubuh, tapi dia jauhar basith (substansi yang tidak berdiri atas unsur-unsur) tak dapat diindra oleh pengindraan". Jiwa itu mempunyai aktifitas yang berlainan dengan aktifitas jisim serta bagian-bagiannya dengan segala sifat-sifatnya hingga tidak menyertainya dalam segala hal. Bahkan juga berbeda dengan sifat aradl (accident) jisim serta berlainan sama sekali dengan jisim dan sifat-sifat aradl, Tegasnya jiwa itu bukan jisim, bukan pula bagian dari jisim dan bukan pula sifat aradly. Jiwa itu tidak mengambil ruang, tidak berobah. Dia (jiwa) dapat menanggapi segala sesuatu secara serentak bersamaan dan tidak mengalamy penyusutan, rusak atau berku-rang.

Ibnu Miskawaihi memberi penjelasan lagi akan hal tersebut di atas bahwa tiap jisim mempunyai shurah. Dia tidak akan menerima shurah lain yang dari jenis shurah pertama kecuali sesudah jisim melepaskan sama sekali shurah yang pertama. Contohnya bila jisim sudah menerima suatu shurah / syakal umpamanya segitiga, maka dia tidak akan menerima lagi syakal lain misalnya segi empat, bundar atan lainnya, kecuali bila jisim melepaskan syakal pertama (segitiga). Demikian pula bila jisim menerima shurah lukisan atau tulisan maka jisim itu tidak dapat menerima shurah lukisan/tulisan lainnya kecuali sesudah shurah lukisan pertama/terdahulu lenyap sama sekali. Bila shurah terdahulu tetap masih ada bersisa, maka jisim tidak dapat menerima secara utuh shurah yang datang kemudian lalu terjadilah campur aduk antara kedua shurah itu, tak ada salah satupun diantara dua shurah itu yang bersih sama sekali. Contoh lain, sebatang lilin bilamana sudah menerima shurah lukisan yang dicapkan atasnya, lilin itu tidak akan menerima cap lukisan berikutnya kecuali jika shurah lukisan yang lama dihapuskan.

Demikianlah hukum yang berlaku pada jisim. Berbeda halnya dengan sifat-sifat jiwa itu menerima semua shurah dari segala sesuatu secara menyelurah yang bermacam-macam, baik yang mahsusaat (segala sesuatu yang diindera) ataupun yang berupa ma'qulaat (pengertian-pengertian) dengan sempurna, tanpa melepaskan shurah yang terdahulu atau menggantikannya ataupun melenyapkannya, bahkan gambaran (shurah) terdahulu dengan sempurna tetap bertahan, juga shurah yang datang berikutnya tersimpan dengan sempurna. Kemudian jiwa terus menerus menerima shurah demi shurah tanpa kelelahan dan kealpaan ketika menerima shurah baru datang. Bahkan shurah terdahulu bertambah kuat dengan kedatangan shurah berikutnya. Inilah sifat-sifat khusus pada jiwa yang berlainan dengan sifat-sifat khusus pada jisim. Karena faktor inilah penalaran dan pemahaman manusia berkembang teras manakala dia terlatih dan berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan dan kebudayann. Jadi jiwa itu bukanlah jisim.

 

Macam-macam kekuatan jiwa

Tiga macam kekuatan Alquwwah nafsiyah yang dikemukakan Ibnu Miskawaihi. Pertama Quwwatun Natigah (daya pikir) dinamai juga Quwwatun Malakiyah merupakan fungsi tertinggi, kekuatan berpikir, melihat fakta. Alat yang dipergunakannya dari dalam badan adalah otak. Kedua Quwwatun Ghodabiyah (daya marah) yakni keberanian menghadapi resiko, ambisi pada kekuasaan, kedudukan dan kehormatan. Kekuatan ini disebut juga Quwwatun Sab'iyah (daya kebuasan). Alat yang dipergunakan dalam badan adalah hati. Ketiga, Quwwatun Syahwiyah (nafsu) disebut juga Quwwatun Bahimiyyah (daya hewany), yakni dorongan nafsu makan, keinginan kepada kelezatan makanan / minuman/seksualitas dan segala macam kenikmatan indrawy (Allazzatulhissiya) alat yang dipergunakannya dari dalam badan manusia adalah "perut".

Ketiga macam kekuatan ini berbeda-beda pada setiap orang. Salah satu-nya kuat, yang lain lemah tergantung pada perangainya, adat kebiasaan atau pendidikannya.
Dari masing-masing tiga macam kekuatan jiwa tersebut (natiqah, gha-dabiyah, syahwiyah) lahir fadlilah-fadlilah sewaktu gerak aktivitasnya normal (mu'tadilah), serasi dan seimbang. Bila gerakan jiwa natiqah normal, tidak menyimpang dan hakikatnya, dan kecenderungannya kepada ilmu pengetahuan yang benar lahirlah fadlilah al-'Ilmu lalu al-Hikmah. Bilamana gerak jiwa bahimiyah serasi seimbang, dibawah kontrol daya jiwa natigah/agliyah, patuh kepadanya, tidak hanyut mengikuti hawa nafsu lahirlah fadlilah 'iffah (kebersihan diri) lalu As Sakhaa'u (kedermawanan). Bila gerak daya jiwa ghodabiyah serasi seimbang, patuh kepada petunjuk jiwa aqliyah, tidak bergejolak diluar batas, terjadilah fadlilah al-Hilmu (kesantunan) lalu disusul fadlilah as Saja'ah (keberanian). Dan tiga macam fadlilah (al-hikmah, al 'Iffah dan as saja'ah) di dalam keseimbangan dan keserasian satu sama lain lahirlah al adlaalah. Dengan demikian, maka para hukama (failosof) bersepakat menetapkan bahwa jenis fadilah empat yaitu: al-Hikmah, al-'Iffah, as-Saja'ah dan al Adlaalah. Adapun lawannya empat pula yaitu al Jahl (bodoh), as Syarh (rakus) al Jubn (takut) dan Al Jaur (kelaliman). Al Hikmah (kebijakan) ialah fadlilah sifat utama dari jiwa natigah, jiwa pikir kritis analitis (Annatiqah almumayyizah) untuk mengetahui (mengenali) segala yang ada karena keberadaannya, atau untuk mengetahui hal ihwal ketuhanan dan hal ihwal kemanusiaan. Dengan demikian pengetahuan membuahkan pengenalan tentang al ma'qulat (pengertian-pengertian tentang hal yang abstrak/yang metafisis) secara kritis analitis, mana yang benar dipegangi, mana yang salah dibuangnya.

Al-Iffah (kesucian diri) sifat utama pada pengindraan nafsu syahwat al Hissussyahwani. Sifat utama ini nampak pada waktu seseorang mengendalikan nafsunya (setelah responsi indra terhadap suatu stimulus) dengan pertimbangannya yang sehat sehingga dia tidak tunduk pada nafsunya itu, dia bebas dari perbudakan hawa nafsunya.
As-Saja'ah (keberanian) adalah sifat utama pada jiwa ghodlabiyah. Sifat ini nampak pada manusia ketika jiwa ghodlabiyah itu dikendalikan oleh sifat utama al-Hikmah dan dipergunakan sesuai dengan akal pikiran untuk menghadapi masalah-masalah yang punya resiko, umpamanya tidak gentar menghadapi perkara-perkara yang menakutkan. Dia atasi perkara itu bila sikap demikian dipandang baik atau dia menahan diri bila sikap demikian dipandang terpuji. Al-Adaalah (keseimbangan) adalah sifat utama pada jiwa sebagai produk dari integrasi (ijtimal) yang serasi dari tiga unsur jiwa yang telah disebutkan, dimana unsur al Hikmah merupakan faktor yang dominan. Dengan keberadaan al Adaalah itu, manusia memiliki simatun (ada tulisan Arab) ciri. Pilihannya (sebagai balanced individual) yaitu dia bagian dari dirinya sendiri dan bagian dari orang lain (bagian dari masyarakat).

Masing-masing dari keempat fadlilah tersebut di atas membawahi sifat-sifat yang baik lainnya.

a.       Al Hikmah membawahi sifat-sifat zakaa1 (kecerdasan), zikr (ingatan), ta'aqqul (reasoning), sur-'atul fahmi (cepat mengerti), shafaa zihni (kebeningan pikiran), suhulatut ta-allum (gampang belajar).

b.      Al 'Iffah, sifat utama ini membawahi sifat-sifat yang baik, hayaa (rasa malu), wada-ah (tenang pembawaan), shabr (sabar menahan gejolak nafsu), saikhaa (cukup pemurah), hariyyah (kepantasan), qana'ah (bersahaja), damaatsah (kelembutan), musalamah (suka kedamaian), intizhaam (kerapian), waqaar (sopan/anggun), wara' (teguh mental).

c.       As-Saaja'ah, sifat yang utama yang dibawahinya adalah kibrun nafs (jiwa besar), najaah (berani nantang bahaya), azhrnul himmah (tinggi cita-cita), tsabaat (tabah), shabr (sabar dalam menghadapi bahaya), hilmu (santun), 'adamut thaisyi (tidak lemah mental), ihtimaalul kaddi (punya daya tahan tubuh), syahaamah (energik).

d.      Al Adaalah. Sifat utama yang berada di bawah al Adaalah yaitu: shadaaqah (persaudaraan), ulfah (kerukunan), silaturahim (silaturrahmi), mukafa'ah (suka memberi imbalan), husnussyirkah (baik dalam persekutuan husnulqadlaa (baik dalam pemberian jasa tanpa penyesalan dan minta imbalan), tawaddud (upaya mendapatkan simpati dari orang-orang mulia dengan jalan tatap muka yang manis dan dengan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan cinta kasih dari mereka), ibadah (mengagungkan Tuhan, mentaatiNya, memuliakan malaikat dan para Nabi dan alim utama, dan beramal sebagaimana digariskan agama dan ketaqwaan achir dari segalanya, tarkul hiqdi (meninggalkan perasaan sentimen), membalas kejahatan dengan kebaikan), mempergunakan keramahan), dalam segala hal selalu beralasan prestige/harga diri, menjauhi persengketaan, meninggalkan pergunjingan, dan lain sebagainya dari sifat-sifat baik dalam hubungan antara manusia.

 

D.       Relevansinya dengan Pendidikan Islam Sekarang

Cita-cita pendidikan sebagaimana yang dimaksudkan Miskawaihi di-isyaratkanya dalam awal kalimat kitab Tahzibul Akhlak ialah terwujudnya pribadi susila, berwatak yang lahir daripadanya perilaku-perilaku luhur, atau berbudi pekerti mulia. Dan budi (jiwa/watak), lahir pekerti (perilaku) yang mulia. Untuk mencapai cita-cita ini haruslah melalui pendidikan dan untuk melaksanakan pendidikan perlu mengetahui watak manusia atau budi pekerti manusia.

 

a.       Apakah watak itu dapat dididik?

Ibnu Miskawaihi dalam maqalah kedua membahas tentang al-Khulq (watak) itu ialah suatu kondisi bagi jiwa yang mendorong untuk melahirkan tingkah laku tanpa pikir dan pertimbangan (tingkah laku spontan). Kondisi ini terbagi dua. Ada yang alamy dari asal mizaaj (temperament) seperti sifat pada seorang manusia yang mudah terpengaruh/bereaksi oleh suatu hal yang sederhana. Umpama marah disebabkan suatu faktor yang kecil, atau takut sebab yang sederhana dan lain-lain seperti mudah kaget karena dengan suara gemerisik, mudah sedih, mudah senang, mudah tertawa disebabkan hal perangsang yang sederhana.

Kedua ialah watak seorang yang diperoleh dari kebiasaan/latihan yang berulang-ulang, pada mulanya perilaku itu disertai kesengajaan atau pikiran kemudian berkelanjutan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan/watak. Karena itu kata Miskawaihi para ahli jaman dahulu berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan bahwa watak itu adalah tertentu bagi kekuatan jiwa selain kekuatan jiwa natigah. Sebagian lain mengatakan ada juga aspek dari kekuatan jiwa natiqah pada watak itu. Perbedaan kedua adalah apakah watak itu alamy. Sebagian mengatakan watak itu alamy tak dapat dirubah. Sebagian lain mengatakan tak ada sesuatu pun pada watak itu yang alamy.

Kami sendiri, kata Miskawaihi - tidaklah berpendapat watak itu tidak alamy. Kita diciptakan atas dasar menerima watak, namun kita berubah berkat pendidikan dan pengajaran cepat atau lambat. Pendapat terakhir inilah pilihan kami karena sesuai dengan kesaksian mata kita. Pendapat pertama (yang mengatakan watak itu alamy dan tak dapat dididik) menyampingkan kekuatan tamyiz (penalaran) serta akal dan menolak segala upaya serta membiarkan manusia tidak beradab, menelantarkan para remaja dan anak-anak tanpa pendidikan.

Kemudian Miskawaihi mengemukakan pendapat golongan Ruwwaqiyyun (Stoicism), Jalinus (Galer, 131-201 SM) dan pendapat Aristoteles tentang watak manusia. Golongan Rawwaqiyyun berpendapat bahwa watak itu dasaraya baik, kemudian karena pengaruh pergaulan watak yang baik itu menjadi buruk Sedang Jalinus berpendapat bahwa sebagian watak manusia pada dasarnya (alamy) jahat, sebagian lagi mengatakan watak itu dasarnya baik, diantara mereka ada yang mengatakan dasar watak itu tengah-tengah antara baik dan buruk. Mereka yang wataknya baik alamy sedikit; mereka tidak akan berubah menjadi buruk. Sedang mereka yang wataknya buruk alamy banyak, mereka tidak akan berubah menjadi baik. Mereka yang wataknya berada di tengah-tengah diantara balk dan buruk dapat berubah menjadi baik jika mendapat pengaruh pendidikan yang baik dan berubah menjadi buruk jika mendapat pengaruh pendidikan yang buruk Kemudian Miskawaihi mengutip pendapat Aristoteles yang dijadikannya pegangan.
Menurut Aristoteles orang jahat/watak buruk dapat berubah dengan pendidikan namun tidak mutlak. Pengajaran dan pendidikan yang berkelanjutan serta bimbingan yang baik yang diupayakan manusia tentulah akan memberi pengaruh yang berbeda-beda terhadap bermacam-macam orang. Ada diantara mereka yang menerima pendidikan dengan cepat sedang sebagian yang lain menerimanya dengan lambat untuk menuju keutamaan.

Temperament adalah pembawaan yang bergantung kepada konstitusi tubuh. Kemungkinan mengubah atau mendidik temperament hanyalah sedikit sekali, karena dalam temperament terdapat unsur-unsur yang tidak dapat dipengaruhi kemauan. Adapun watak adalah keadaan atau konstitusi jiwa yang nampak dalam perbuatan-perbuatannya. Watak bergantung kepada pembawaan dan lingkungan hidup (pergaulan hidup, pendidikan). Jadi watak bergantung kepada kekuatan dari dalam dan dari luar. Begitulah karakter (watak) Lebih luas dari temperament. Temperament terdapat dalam karakter. Karakter dapat diubah dan dididik.[5]

 

b.      Perbedaan Individual

Ibnu Miskawaihi mengemukakan bahwa manusia dalam menerima pendidikan bermacam-macam tingkatan. Hal demikian mudah disaksikan pada anak-anak, karena watak mereka nampak wajar sejak mula perkembangan, terbuka apa adanya tidak diselubungi dengan pikiran-pikiran dan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana halnya orang dewasa yang memahami apa yang buruk bagi dirinya lalu ditutup-tutupinya dengan bermacam-macam tipu muslihat dengan perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan perangainya itu.

Kita mengetahui dari watak anak serta kesiapan mereka dalam menerima didikan ada diantara mereka yang kasar ada pula yang pemalu, pemurah, kikir, penyayang, keras, dan sebagainya. Kebermacaman itu kita lihat pula pada orang-orang dewasa dalam menerima didikan budi pekerti utama. Bila kita abaikan perbedaan-perbedaan watak individual ini lalu tidak kita didik sebagaimana mestinya, maka tiap orang akan tumbuh sesuai dengan watak individualnya itu, mungkin dia tumbuh jadi baik atau buruk. Maka disinilah pentingnya pendidikan agama (pendidikan normatif). Agamalah yang dapat meluruskan anak-anak dan mendidik mereka dengan perilaku yang terpuji dan mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima "hikmah".

Tanggung jawab orang tualah pelaksanaan pendidikan agama ini dengan pelbagai upaya, kalau perlu meapergunakan ancaman hukuman sampai mereka terbiasa hidup beragama.[6]

 

c.       Metode alamy (Thariqun Thabi-iy) dalam pendidikan

Setelah menguraikan perbedaan individual manusia dan diperlukannya pendidikan untuk membina perkembangan individual itu, Miskawaihi kemudian mengemukakan penggunaan thariqun thab'iyyun (metode alamiyah) dalam mendidik. Metode alamiyah itu bertolak dari pengamatan terhadap potensi-potensi insany. Mana yang muncul lahir lebih dahulu, maka pendidikan diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan potensi yang lahir dahulu itu, kemudian kepada kebutuhan potensi berikutnya yang lahir sesuai dengan hukum alam. Potensi yang muncul pertama kali adalah gejala umum yang ada pada tingkat kehidupan hayawani dan nabati, kemudian terus-menerus lahir suatu gejala khusus yang berbeda dengan gejala potensi macam lain sampai menjadi tingkat kehidupan insany. Maka dari itu kata Miskawaihi - wajib bagi kita mulai dengan hasrat (kecenderungan) akan makan, yang muncul pada diri kita dengan jalan memenuhi kebutuhan kecenderungan, lalu muncul kecenderungan ghodlabiyah dan cinta kemuliaan, kita didik dengan jalan memenuhi kecenderungan, kemudian terakhir lahir kecenderungan kepada ilmu pengetahuan (dari jiwa natiqah) maka kita didik dengan jalan memenuhi kecenderungan itu.

Urutan kemunculan inilah yang kami (Miskawaihi) maksudkan thabi'iy (alamy), karena didasarkan proses kejadian manusia, yakni pertama kali embrio lalu bayi kemudian orang dewasa. Potensi-potensi mi lahir berurutan secara alamiyah.17
Ide pokok dari thariqun thabi'iyyun dari Miskawaihi ialah bahwa pelaksanaan kerja - mendidik itu hendaknya didasarkan atas perkembangan lahir batin manusia. Setiap tahap perkembangan manusia mempunyai kebutuhan psycho-phisiologis dan cara mendidik hendaklah memperhatikan kebutuhan ini sesuai dengan tahap perkembangannya.

 

d.      Fungsi Pendidikan

1) Memanusiakan manusia

Setiap makhluk di dunia ini mempunyai kesempurnaan khusus dan perilaku yang spesifik baginya yang tidak ada makhluk lain yang menyertainya pada perilaku itu. Maka manusia diantara segala makhluk yang ada mempunyai perilaku khusus yaitu segala yaitu segala perilaku yang lahir dari pertimbangan nalar akal pikirannya. Karena itu siapa yang pertimbangannya paling jernih penalarannya paling benar, keputusannya paling tepat, adalah orang yang paling sempurna martabat kemanusiaannya . Manusia yang paling utama adalah orang yang paling mampu menunjukkan perilaku yang khas padanya dan yang paling teguh berpegang kepada syarat-syarat substansinya (daya pikir) yang membedakan dia dengan makhluk lainnya. Maka, kewajiban yang tidak diragukan lagi ialah berbuat kebajikan yang merupakan kesempurnaan manusia yang untuk itu mereka diciptakan dan agar mereka berupaya sungguh-sungguh untuk sampai pada kebajikan (al khairaat) itu, dan agar manusia menghindari kejahatan-kejahatan (as-syurur) yang menghambat mereka sampai kepada kebaikan.

Oleh karena itu tugas pendidikan adalah mendudukkan manusia sesuai dengan substansinya sebagai makhluk yang termulia dan makhluk lainnya. Hal itu ditandai dengan perilaku dan perbuatan yang khas bagi manusia yang tak mungkin dilakukan makhluk yang lain.

 

2) Sosialisasi individu manusia

Pendidikan haruslah merupakan proses sosialisasi hingga tiap individu merupakan bagian integral dari masyarakatnya dalam melaksanakan kebajikan untuk kebahagiaan bersama. Miskawaihi menyatakan bahwa kebajikan itu sangat banyak dan tak mungkin mewujudkan seluruh kebajikan dari kemampuan satu orang manusia. Oleh karena itu kata Miskawaihi untuk mewujudkan seluruh kebajikan itu haruslah jama ah besar. Jadi seluruh individu berhimpun pada suatu waktu untuk mencapai kebahagiaan bersama. Kebahagiaan tiap individu sempurna berkat pertolongan lainnya. Kebajikan menjadi milik bersama. Kebahagiaan dibagi-bagikan kepada individu hingga masing-masing bertanggung jawab atas bagian dan kebahagiaan itu. Kamalul insany/human perfection tercapai berkat gotong royong itu. Untuk hal demikian wajiblah manusia saling mencintai satu sama lain, karena masing-masing orang melihat kesempurnaanya berada pada orang lain. Kalau tidak saling mencintai, tidaklah sempurna kebahagiaanya. Jadi tiap orang merupakan anggota dari anggota badan. Rangka manusia sempurna dengan utuhya anggota-anggota badan.20 Miskawaihi menegaskan lagi bahwa manusia di antara segala makhluk , hewan tak dapat mandiri dalam menyempumakan essensinya sebagai insan, tetapi pasti dengan pertolongan dari golongan manusia lain. Dia dapat mencapai kehidupan yang baik dan melaksanakan kewajibannya dengan tepat. Manusia pada dasarnya adalah anggota masyarakat. Di tengah-tengah masyarakat tenvujud kabahagiaan insaniyahnya. Setiap orang memerlukan orang lain. Dia sewajarnya bergaul dengan masyarakat sebaik-baiknya, mencintai mereka setulus-tulusnya.

 

3) Menanamkan rasa malu

Manusia diciptakan dengan kekuatan-kekuatan potensial dan kekuatan-kekuatan itu tumbuh secara alamiyah. Kekuatan yang mula-mula muncul ialah tuntutan biologis, yakni kecenderungan syahwaniyah seperti makan unruk mengembangkan fisik. Tuntutan biologis ini terus berkembang ke berbagai kecenderungan-kecenderungan keinginan. Kemudian menyusul timbul kekuatan imaginasi yang timbul dari pengindraan. Sesudah itu muncul kekuatan ghodabiyah/kekuatan kemauan untuk bertindak mengatasi hambatan atau untuk memenuhi kecenderungan. Bila gagal mengatasi sendiri, menangislah anak itu, atau dia minta bantuan kepada orang tuanya. Setelah itu lahir kekuatan tamyiz/pertimbangan nalar (perkembangan intelektualitas) terhadap perilaku-perilaku khas manusiawi sedikit demi sedikit hingga sempurna. Pada tingkat perkembangan ini, anak dinamai aqil (L'enfant fait). Kekuatan-kekuatan ini banyak, sebagiannya secara fundamental mendorong terwujudnya sebagjan kekuatan yang lain sehingga tercapai tujuan perkembangan terakhir 9tingkat akhir perkembangan akal insany), Tujuan yang tak ada lagi tujuan lainnya, yaitu "al-Khair al-mutlaq". Kebajikan mutlak yang diinginkan manusia sebab dia manusia.

Pertama-tama yang muncul dari kekuatan-kekuatan ini pada manusia adalah rasa malu (al-hayaa'u), yaitu rasa takut lahirnya sesuatu yang jelek dari dirinya. Karena itu - kata Miskawaihi - pertama-tama yang harus diamati benar-benar pada anak-anak dan dipandang tanda awal perkembangan akalnya adalah timbulnya rasa malu karena hal itu menunjukkan bahwa anak sudah menginsafi tentang keburukan. Disamping keinsafan tentang keburukan anak juga berupaya memelihara dirinya dan menjauhi keburukan itu.
Ibnu Mskawaihi menandai gejala ini dengan perilaku anak seperti - kata Miskawaihi - bila kau amati anak-anak dan kau dapati dia tersipu-sipu, matanya menunduk ke bawah, wajahnya sayu, maka itu tandanya awal dari kebagusan bawaanya dan menjadi bukti bagimu bahwa jiwa sudah mengerti kebaikan dan keburukan. Jiwa yang demikian berbakat untuk dididik, pantas diberi perhatian, wajib tidak ditelantarkan dan jangan dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang dapat merusaknya.

"Dari pikiran Miskawaihi diatas jelaslah bahwa penanaman rasa malu adalah fungsi pendidikan yang penting dan penanaman ini dimulai sedini mungkin yakni pada awal munculnya gejala jiwa tamyiz, yakni perkembangan anak mulai berpikir kritis dan logis pada waktu mereka duduk di sekolah dasar, pada umur antara 10-12 tahun. Anak telah dapat mengenal aturan kesusilaan serta tahu bagaimana dia harus bertingkah laku (Bigot).

 

e.       Ilmu Pengetahuan yang dipelajari

Ibnu Miskawaihi menempatkan ilmu ke dalam suatu kedudukan berdasarkan obyek ihnu itu. Ilmu yang paling mulia menurat Miskawaihi adalah ihnu pendidikan karena obyeknya adalah budi pekerti manusia, menyangkut substansi manusia.. Ilmu kedokteran, adalah obyeknya manusia, juga merupakan ilmu pengetahuan yang mulia. Segala ilmu pengetahuan yang mengembangkan quwwatun natiqah (daya pikir) adalah ilmu yang paling mulia. Sebab jiwa natiqah selalu condong kepada ilmu pengetahuan, lambang kesempumaan dan kemuliaan manusia. Sebaliknya pengetahuan tentang menyamak kulit dipandang hina karena obyeknya adalah kulit bangkai hewan.
Dengan dasar pemikiran tersebut Ibnu Miskawaihi membagi ilmu kepada dua golongan : al-ulumul syarifah (ilmu-ilmu yang mulia) dan al-ulumul radli'ah (ilmu-ilmu yang hina). Martabat suatu ilmu sesuai dengan urutan martabat hakekat obyek iknu itu dalam alam ini, misalnya ilmu tentang manusia lebih mulia dari obyek hewann, ilmu hewan lebih mulia dari tumbuh-tumbuhan. Dari pemikiran Miskawaihi, kita memahami bahwa kecenderungan Miskawaihi kepada ulumul aqliyah, sebagai ihnu yang utama dipelajari karena menunjang tercapainya kualitas manusia yang sempurna.

 

Miskawaih dan Metode Pendidikan
Ibnu Miskawaih juga mengenalkan sejumlah langkah yang akan melahirkan aspek positif dalam mendidik. Ia, misalnya, memandang penting pemberian pujian. Pujian, kata dia, bisa dilakukan oleh orang tua atau pendidik ketika anak-anak melakukan hal-hal baik.
Menurut Miskawaih, patut pula memberikan pujian kepada orang dewasa yang melakukan perbuatan baik di hadapan anak-anak. Tujuannya, anak-anak bisa mencontoh sikap terpuji yang dilakukan oleh orang dewasa tersebut.
Miskawaih mengingatkan, pujian harus dilakukan untuk menekankan pentingnya tindakan-tindakan yang baik dan harus diberikan untuk tindakan yang baik-baik saja. Selain pujian, ia juga memberi saran untuk mendorong anak menyukai makanan, minuman, dan pakaian yang baik.
Namun, perlu diingatkan pula agar seorang anak atau siapa pun yang telah dewasa untuk tak makan, minum, dan berpakaian secara berlebihan. Dalam aturan makan, anak harus diberi tahu bahwa makan itu suatu keharusan dan penting bagi kesehatan tubuh.
Makan, jelas Miskawaih, bukan sebagai alat kesenangan indra. Perlu diketahui pula bahwa makanan merupakan obat bagi tubuh, yakni obat untuk rasa lapar dan mencegah timbulnya penyakit. Orang tua atau pendidik harus mengingatkan anak didiknya agar tak makan berlebihan.
Dalam cara berpakaian, Miskawaih menyatakan, saat anak telah beranjak dewasa, khususnya laki-laki, sebaiknya mereka mengenakan pakaian putih-putih dan menghindari pakaian berpola. Sebab, menurut dia, pakaian berwarna dan berpola lebih layak untuk perempuan.
Selain itu, Miskawaih mendorong laki-laki untuk tak menghiasai dirinya dengan perhiasan perempuan, seperti memakai cincin dan mempunyai rambut panjang. Mereka tidak boleh mengenakan emas dan perak dalam bentuk apa pun.
Anak-anak, jelas Miskawaih, pun harus dilatih untuk mengagumi sifat-sifat murah hati. Misalnya, berbagi makanan. Selain pujian, anak juga perlu mendapatkan peringatan bila melakukan hal tak baik. Jika anak berbuat buruk, perbuatan itu juga perlu dikecam.
Langkah ini bertujuan agar si anak tak lagi melakukan hal buruk. Jika kecaman tak membuat si anak menghentikan perbuatan buruknya, Miskawaih menyarankan tindakan terakhir, yaitu hukuman fisik. Namun, hukuman ini tak dilakukan secara berlebihan.[7]

DAFTAR PUSTAKA
Bigot c.s., Psychology Bab Karakterologi, Simpai: Yogyakarta, 1957
Hariyadi Selamet, Riwayat Hidup Maskawaih, dalam http://blog.uin-malang.ac.id/selamethariadi/2010/09/12/riwayat-hidup-ibnu-maskawaih/ diakses 13 November 2011
Miskawaihi Ibnu, Tahzibul Achlaq, terj. Bandung, Mizan, 1995, hal. 2
Muhammad Musa Yusuf, Falsafatil Achlaq fil Islam wa Shilatiha bil Falsafatil Ighriqiyyah, Qairo, Get. Ill, 1926
Munzdirtamam, Ibn Miskawaih, dalam http://munzdirtamam.blogspot.com/2011/06/ibn-miskawaih.html, diakses 13 November 2011
Syaddad Farhan, Ibn Miskawaih, Mendorong Pendidikan Sejak Dini, dalam http://mpiuika.wordpress.com/2010/02/10/ibnu-miskawaih-mendorong-pendidikan-sejak-dini/, diakses 20 Nov 2011


[1] Yusuf Musa Muhammad, Falsafatil Achlaq fil Islam wa Shilatiha bil Falsafatil Ighriqiyyah, Qairo, Get. Ill, 1926, hal. 74
[2] Selamet Hariyadi, Riwayat Hidup Maskawaih, dalam http://blog.uin-malang.ac.id/selamethariadi/2010/09/12/riwayat-hidup-ibnu-maskawaih/ diakses 13 November 2011
[3] Munzdirtamam, Ibn Miskawaih, dalam http://munzdirtamam.blogspot.com/2011/06/ibn-miskawaih.html, diakses 13 November 2011
[4] Ibnu Miskawaihi, Tahzibul Achlaq, terj. Bandung, Mizan, 1995, hal. 2
[5] Bigot c.s., Psychology, Simpai, Yogyakarta, 1957, Bab Karakterologi.
[6] Ibnu Miskawaihi, Tahzibul Achlaq…, hal. 12
[7] Farhan Syaddad, Ibn Miskawaih, Mendorong Pendidikan Sejak Dini, dalam http://mpiuika.wordpress.com/2010/02/10/ibnu-miskawaih-mendorong-pendidikan-sejak-dini/, diakses 20 Nov 2011

*) Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana S3 MPI - UIN Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar